Pendidikan karakter anak di era milenial
Nama : Irvan Fajarriansyah
Nim : 11901117
Kelas : PAI 4B
Pada blog saya kali ini akan membahas tentang laporan bacaan saya dari jurnal yang berjudul “PEMBELAJARAN DARING DI TENGAH PANDEMI” jurnal tersebut dapat diakses melalui link berikut ini http://fkip.univetbantara.ac.id/wp-content/uploads/2019/06/materi-bu-nurna.pdf
Saat ini, pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Pendidikan tidak hanya berupa pendidikan informal, melainkan juga pendidikan non-formal. Pendidikan non-formal adalah pendidikan yang terjadi di masyarakat dengan mengedepankan interaksi sosialnya. Pendidikan yang mengacu pada interaksi sosial memang memiliki dampak yang baik atau buruk bagi perkembangan anak. Pendidikan di lingkungan masyarakat sebenarnya sebuah bimbingan yang diberikan oleh orang tua kepada anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak dapat hidup sebagai manusia dalam bermasyarakat tanpa perlu bantuan orang lain. Pendidikan non-formal (masyarakat) sangat besar sekali pengaruhnya pada perkembangan karakter anak. Dengan lingkungan bermasyarakat yang kondusif pastilah pendidikan di lingkup masyarakat akan membaik. Masyarakat adalah tempat anak memperoleh pendidikan non-formal. Anak-anak bisa melakukan interaksi dan meniru segala hal yang dilakukan masyarakat dalam lingkungannya. Lingkungan hidup anak yang sangat damai, tenteram dan di dalamnya banyak aktivitas bersama, maka interaksi ini akan menjadi pendidikan non-formal sebagai pengalaman hidup anak di lingkungan masyarakat. Masyarakat dalam hal ini tidak hanya sebagai pendidik tetapi juga sebagai petugas hukum untuk menegakkan aturan di lingkungan tersebut agar anak-anak tidak melakukan penyimpangan. Keadaan ini ternyata tidak selamanya sesuai harapan orang tua, yaitu ketika lingkungan hidup anak hanya terjadi sedikit aktivitas bersama atau lingkungannya kurang kondusif. Boleh dikatakan di lingkungan yang buruk, anak ketika masih kecil akan meniru perilaku orang dewasa yang negatif dan ketika besar akan melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungannya yang buruk. Dampak perilaku negatif anak ketika dewasa akan menjadi dua kali lebih besar daripada perilaku orang dewasa yang dicontohya dahulu. Buruknya perubahan anak di lingkungan masyarakat adalah ketika perubahannya lebih mengarah pada hal negatif seperti sikap acuh terhadap orang lain, tidak menghormati orang lain, berkata tidak baik/jorok, maupun acuh terhadap lingkungan. Kecenderungan anak di era milenial adalah mereka berperilaku acuh dan sangat disesalkan ketika ditiru oleh anak-anak lain. Anak yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk akan secara mentah-mentah mengambil berbagai informasi yang ada di sekitarnya termasuk perilaku negatif tersebut. Interaksi sosial terjadi apabila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial adalah tahap pertama terjadinya hubungan sosial. Masyarakat sebagai lembaga pendidikan yang nomor tiga sesudah keluarga dan sekolah, memiliki sifat dan fungsi yang berbeda dalam kehidupan sosial. Pendidikan adalah hal yang selalu diutamakan dan dianggap penting oleh semua orang. Anak yang dididik dengan baik pasti memiliki moral yang baik dan tingkat tingkat kedewasaan yang baik pula serta mampu bermasyarakat dengan baik. Anak yang dididik dengan benar akan berhasil dan dapat hidup tanpa perlu dituntun terus menerus. Oleh karena itu, pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain (Haryanto, 2012). Segala aktivitas anak di lingkungan masyarakat sedikit banyak akan berpengaruh terhadap belajarnya. Sebenarnya banyak sekali kegiatan anak di lingkungan bermasyarakat sebagai bentuk pembelajarannya. Kegiatan anak di masyarakat bisa dalam bentuk berorganisasi, kegiatan-kegiatan sosial, maupun kegiatan di bidang keagamaan. Mass media seperti radio, televisi, majalah, koran, komik, buku-buku akan memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya. Namun mass media yang kurang baik juga berpengaruh terhadap karakter anak. Oleh karena itu anak perlu diberi bimbingan dan kontrol yang cukup bijaksana dari para orang tua, pendidik/guru, dan masyarakat agar tidak terjadi salah langkah. Pengaruh teman bergaul anak juga mempengaruhi karakter anak. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri anak. Demikian pula sebaliknya, teman bergaul yang jelek pasti mempengaruhi karakter anak kelak. Oleh karena itu bentuk kehidupan bermasyarakat berpengaruh besar terhadap karakter anak. Masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang tidak baik, kurang terpelajar, penjudi, suka mabuk-mabukan perlu dijauhkan dalam lingkungan anak. Pendidikan di lingkungan keluarga atau sekolah tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai sosial budaya yang dijunjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat. Masyarakat pasti memiliki karakteristik tersendiri sebagai norma khas di bidang sosial budaya, pembentuk karakteristik masyarakat tersebut dan berfungsi untuk membedakan dengan kelompok masyarakat lainnya. Demikian pula di dalam kelompok masyarakat juga memiliki norma-norma yang universal dengan masyarakat pada umumnya. Dalam masyarakat terdapat norma-norma sosial budaya akan diikuti oleh warga masyarakat tersebut. Norma-norma tersebut akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak dalam bertindak dan bersikap. Norma-norma masyarakat yang berpengaruh tersebut merupakan aturan-aturan yang ditularkan oleh generasi tua kepada generasi muda. Penularan aturan/norma dalam masyarakat ini merupakan sebuah proses pendidikan masyarakat. Masyarakat mempunyai pengaruh yang sangat besar atas berlangsungnya berbagai kegiatan atau aktivitas yang menyangkut masalah pendidikan bagi anak. Masyarakat berperan dalam mengawasi pendidikan di sekolah. Masyarakat ikut menyediakan berbagai sumber untuk kelangsungan sekolah. Masyarakat turut andil mendirikan gedung-gedung pembelajaran, sekolahan, perpustakaan, panggungpanggung kesenian yang dapat digunakan sebagai tempat belajar. Kesibukan setiap warga masyarakat di era milineal yang cukup tinggi dapat mengurangi perhatian terhadap sesamanya. Anak seringkali bersifat acuh tak acuh atau kurang mempunyai toleransi sosial. Suasana kota besar yang heterogenitas, jumlah penduduk yang cukup banyak, perilaku kompetitif yang tinggi seringkali menimbulkan sifat egosentris. Hubungan antar masyarakat hanya berdasarkan kepentingan pribadi dan keuntungan secara ekonomi. Masyarakat mengadakan kontak personal bukan dengan keinginan yang berlandaskan kepentingan bersama, namun kebanyakan hubungan itu hanya digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan masing-masing individu. Lingkungan masyarakat yang kurang mendukung tumbuh kembang anak menyebabkan adanya perilaku indivualis yang tampak dalam kurang akrabnya antar anak dalam sebuah perkampungan, karena masing-masing anak sibuk dengan urusannya sendiri. Akibat modernitas, maka anak merasa tidak perlu menyapa apabila bertemu di jalan, karena merasa tetangga atau anak lain adalah orang asing baginya. Atau anak tidak memikirkan untuk menegur sapa karena dalam pikirannya sudah dipenuhi dengan berbagai kesibukan anak. Anak era milenial kebanyakan menghabiskan waktu hanya untuk bermain game elektronik. Pendidikan karakter terhadap anak di era milenial dimulai dengan tercerminnya lingkungan yang baik dalam keluarga. Apabila karakter atau akhlak semua anggota keluarga baik, niscaya akan baik pula lingkungan masyarakatnya. Pembinaan anak dalam lingkungan masyarakat dengan menumbuhkan kegiatan-kegiatan yang positif, gotong royong, silaturahmi, maupun dialog-dialog interaktif keagamaan. Masyarakat dituntut ikut berperan dalam menciptakan tatanan masyarakat yang nyaman dan peduli terhadap pendidikan. Masyarakat diharapkan terlibat aktif dalam peningkatan kualitas pendidikan yang ada di sekitarnya. Selanjutnya, lingkungan pendidikan tersebut harus saling bekerja sama secara harmonis sehingga terbentuklah pendidikan terpadu antara lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Keterpaduan seperti ini akan mewujudkan komunitas masyarakat yang harmonis. Dengan demikian karakter anak diharapkan akan baik pula. Salah satu faktor penyebab anak mampu memperoleh intelegensi dan karakter yang baik karena didukung oleh faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Ketiga lingkungan tersebut harus bisa melaksanakan fungsinya sebagai sarana yang memberikan motivasi, pendidikan edukatif kepada anak, wahana pengembangan potensi yang ada pada anak. Penanaman nilai pendidikan karakter terhadap anak di era milenial sebenarnya dapat dilakukan dengan memperkenalkan kembali permainan tradisional anak. Permainan tradisional anak sebenarnya dapat juga melatih fisik dan mental anak. Secara tidak langsung anak-anak akan dirangsang kreatifitas, ketangkasan, jiwa kepemimpinan, kecerdasan, dan keluasan wawasannya melalui permainan tradisional ini. Permainan tradisional yang semakin hari semakin hilang karena perkembangan jaman, sesungguhnya menyimpan sebuah keunikan. Dalam permainan tradisional terdapat unsur kesenian dan manfaat yang lebih besar antara lain kerja sama tim, olahraga, dan mampu meningkatkan daya konsentrasi anak. Ironisnya di era milenial dolanan tradisional anak sekarang ini kurang diminati anak-anak sebagai bentuk permainan. Hal ini disebabkan kesibukan orang tua dan tersedianya permainan modern dengan menggunakan teknologi canggih sehingga budaya daerah terabaikan. Faktor lain yang ikut mempengaruhi minimnya pemahaman dan ketertarikan anak-anak pada seni budaya lokal adalah kurang menariknya kemasan dan proses sosialisasi pada generasi sekarang. Selain itu juga pemerintah kurang menaruh perhatian pada dolanan tradisional anak, seperti dolanan tradisional anak belum masuk materi pengajaran di sekolah. Permainan tradisonal anak memiliki bermacam-macam fungsi atau pesan. Pada prinsipnya permainan anak tetap merupakan permainan anak dengan bentuk atau wujud yang menyenangkan dan menggembirakan anak. Aktivitas permainan ini dapat mengembangkan aspek-aspek psikologis anak dan dapat dijadikan sarana belajar anak untuk menuju dunia orang dewasa. Bagi anak permainan dapat dijadikan kegiatan yang serius, tetapi tetap mengasyikkan. Permainan tradisional atau juga disebut permainan rakyat merupakan sebuah kegiatan rekreatif yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur diri, tetapi juga sebagai alat untuk memelihara hubungan sosial. Melalui dolanan tradisional akan melatih anak untuk mengembangkan gagasan, minat utama, rasa memiliki, karena pembelajaran dilakukan dengan suasana yang menyenangkan atau tidak menakutkan. Permainan anak sebenarnya memudahkan para guru untuk mengamati pembelajaran maupun bakat setiap anak. Permainan tradisional anak bersifat edukatif atau mengandung unsur-unsur pendidikan di dalamnya. Melalui permainan, anak-anak diperkenalkan dengan berbagai macam keterampilan atau kecakapan yang sangat berguna setelah mereka dewasa. Inilah salah satu bentuk pendidikan yang bersifat non-formal di dalam masyarakat. Permainan tradisional anak menjadi alat sosialisasi untuk anak-anak sehingga mereka bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sebenarnya bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreatifitas dan sosial. Permainan tradisional anak jika digali lebih dalam, ternyata penuh nilai-nilai dan pesan-pesan kearifan lokal (local wisdom) yang luhur. Sangat disayangkan apabila generasi sekarang terutama generasi yang hidup di era milenial tidak mengenal dan menghayati nilai-nilai yang terdapat dari permainan-permainan tradisional anak di Indonesia. Permainan tradisonal sudah seharusnya mendapatkan perhatian khusus dan prioritas yang utama untuk dilindungi, dibina, dikembangkan, diberdayakan dan selanjutnya diwariskan. Kesadaran sejak dini mengenai pelestarian dan pengenalan permainan tradisional anak diperlukan agar permainan tradisional anak dapat menjadi salah satu benteng ketahanan dalam menghadapi unsur budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Permainan tradisional anak mampu membantu mengembangkan kreativitas seorang anak. Permainan tradisional anak penuh nilai-nilai yang bersifat edukatif, terdapat unsur-unsur pendidikan di dalamnya. Melalui permainan tradisional, anak-anak diperkenalkan dengan berbagai macam keterampilan dan kecakapan serta menjadi sarana sosialisasi untuk anak-anak. Menggali, melestarikan dan mengembangkan permainan tradisional adalah suatu hal yang perlu dilakukan. Permainan tradisional sebenarnya sangat baik untuk melatih fisik dan mental anak. Secara tidak langsung anak-anak akan dirangsang kreatifitas, ketangkasan, jiwa kepemimpinan, kecerdasan, dan keluasan wawasannya melalui permainan tradisional. Demikian pula peningkatan dari segi kesehatan, psikologis maupun peningkatan konsentrasi dan semangat belajar bisa dikembangkan melalui permainan tradisional ini. Nilai-nilai edukatif yang bisa digali antara lain pendidikan bermusyawarah, sikap sportif, kompetitif, jiwa kepemimpinan, pengembangan pola pikir sistemik, kejujuran, loyalitas, kreatif, kemandirian, tanggung jawab, percaya diri, pengembangan imajinasi, pengendalian diri/kesabaran, menjalin kerjasama, melatih kematangan sosial, pemahaman elemen alam, menaati aturan, pengembangan keterampilan berbahasa, pengembangan kinestetik, maupun pengembangan kecerdasan spiritual bisa ditumbuhkan. Permainan betengan melatih kekuatan fisik anak, melatih kerjasama, melatih kejujuran. Permainan blarak-blarak sempal mampu meningkatkan kesehatan fisik anak dan persatuan, permainan sar-sur melatih tanggung jawab, kejujuran, kesehatan. Permainan bethek-bethekan melatih kecerdasan. Permainan dhelikan melatih kerjasama, kejujuran dan kekuatan fisik anak. Permainan pak pong melatih ketangkasan anak, mampu bersikap untuk mengambil keputusan, mampu menggunakan kesempatan. Permainan hombreng melatih anak untuk teliti, jujur. Permainan cublak-cublak suweng melatih kejujuran dan konsentrasi anak. Permainan dhakon melatih ketelitian dan kecerdasan anak. Kemampuan mengajak teman untuk melaksanakan permainan sebenarnya merupakan dasar-dasar pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dengan demikian berbagai bentuk permainan tradisional ini secara tidak langsung mampu melatih anak untuk memiliki karakter dan jiwa kepemimpinan.
Komentar
Posting Komentar