Irvan Fajarriansyah 11901117
Perkenalkan nama saya IRVAN FAJARRIANSYAH (11901117) pada kesempatan kali ini saya akan meyampaikan laporan bacaan yang telah saya baca. Bacaan saya pada minggu ini mengambil tema pada jurnal yang berjudul “Nilai-Nilai Budaya Sekolah dalam Pembinaan Aktivitas Keagamaan Siswa ” yang bisa kalian akses melalui link http://jurnal.iain-padangsidimpuan.ac.id/index.php/JurnalGender/article/download/777/685
Budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan, kesehariaan, dan simbol-simbol yang dipraktikan oleh kepala sekolah, guru, peserta didik, dan karyawan sekolah. Tanpa budaya sekolah yang bagus, akan sulit melakukan pendidikan karakter bagi anak-anak didik. Jika budaya sekolah sudah mapan, siapapun yang masuk dan bergabung di sekolah itu hampir secara otomatis akan mengikuti tradisi yang sudah ada. Aktivitas keagamaan merupakan hal yang sangat penting di dalam ajaran agama Islam. Aktivitas ini merupakan aplikasi atau pengalaman terhadap ajaran agama itu sendiri, untuk itu latihan keagamaan ini merupakan sikap yang tubuh atau yang dimiliki seseorang kemudian dengan sendirinya akan mewarnai sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk sikap dan tindakan yang dimaksudkan yakni yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Pembinaan kegiatan keagamaan merupakan usaha yang dilakukan seseorang atau perkelompok yang dilaksanakan secara terus menerus maupun yang ada hubungannya dengan nilai nilai budaya sekolah.
pada dasarnya anak adalah amanah yang diberikan Allah kepada orangtua. Sebagai konsekuensi dari amanah tersebut, maka orangtua tanpa ada yang memerintah langsung memikul tugas sebagai pendidik, pemelihara, pengasuh, pembimbing dan pemimpin bagi anak anaknya. Sementara, orang tua yang baik hendaknya memelihara hubungan yang harmonis antara anggota keluarga (ayah dengan ibu,orang tua dengan anak, dan anak dengan anak). Pemahaman agama pada anak itu berbeda-beda, sebatas apa yang pernah mereka lihat, mereka peroleh dari orang tuanya, gurunya, sebatas seberapa jauh apresiasi mereka dalam memahami nilai-nilai agama itu sendiri. Dan itu wajar-wajar saja, karena anak merupakan peniru (imitation) yang ulung, walaupun kadang mereka tidak faham dengan hal- hal yang ditiru, tetapi itulah yang ia jadikan sebagai acuan, apa yang dia lihat dan itulah yang dijadikan teladan bagi mereka.
Menurut Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, istilah-istilah berikut adalah:
1. Nilai-nilai budaya adalah konsep abstrak menegenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia (1999, 1180).
2. Sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (1999, 138).
3. Berdasarkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud Pembinaan (1991, 134) adalah proses pembuatan, pembaharuan, penyempurnaan, usaha dan tindakan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan hasil untuk memperoleh hasil yang lebih baik atau upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendidikan anak menjadi lebih baik.
4. Selajutnya, dalam “Tim Penyusun Kamus Bahasa” (2001, 23) Aktvitas keagamaan artinya keaktifan, kegiatan, kerja, atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan. Keagamaan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan agama.
Nilai-Nilai Budaya
Nilai itu merupakan sesuatu hal yang bersifat abstrak, seperti penilaian baik atau buruknya sesuatu, penting atau kurang penting, apa yang lebih baik atau kurang baik, dan apa yang lebih benar atau kurang benar yang dapat mempengaruhi perilaku manusia dalam bertindak atau berbuat sesuatu hal dalam kehidupan sosial. Berbicara tentang nilai, nilai atau yang biasa dikenal dengan istilah “value” dalam kamus menurut kamus Poerwodarminto (2003, 56) dalam diartikan sebagai berikut:
1) Harga dalam arti taksiran, misalnya nilai emas.
2) Harga sesuatu, misalnya orang.
3) Angka, skor.
4) Kadar, mutu.
5) Sifat-sifat atau hal penting bagi kemanusiaan.
Untuk menghindari kesimpangsiuran pemahaman, maka ada baiknya terlebih dahulu dijelaskan apa yang dimaksud dengan nilai – nilai budaya itu. Nilai-nilai budaya merupakan nilai-nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan 1 dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yg akan terjadi/ sedang terjadi. Nilai-nilai budaya akan tampak pada simbol-simbol, sign, mutu, visi misi/ sesuatu yang nampak sebagai acuan pokok mutu suatu lingkungan/ organisasi.
Budaya Sekolah
Budaya sekolah (school culture) merupakan salah satu unsur sekolah yang penting dalam mendukung peningkatan prestasi dan mutu sekolah. Yang berarti, konsep budaya memiliki sejarah yang panjang dalam menjelaskan perilaku manusia pada umumnya dan kelompok-kelompok pada khususnya. Ilmuwan sosial lainnya kemudian menerapkan konsep budaya kepada aspek-aspek yang lebih spesifik atau terbatas yakni mengenai pola perilaku dan cara berpikir manusia dalam bekerja formal pada organisasi-organisasi.
Pengertian Pembinaan
Pembinaan adalah membuat lebih baik, dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa pembinaan adalah proses pembuatan, pembaharuan, penyempurnaan, usaha dan tindakan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan hasil untuk memperoleh hasil yang lebih baik atau upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendidikan anak menjadi lebih baik yang diungkapkan dalam Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud (1991, 134). Upaya pembinaan yang dilakukan ini adalah salah satu usaha untuk meningkatkan pengetahuan keagamaan dikalangan siswa maupun masyarakat dan bahwasanya anak harus dididik sebaik mungkin begitu juga keagamaannya agar tercipta anak atau generasi yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Bentuk-Bentuk Aktivitas Keagamaan
Adapun bentuk-bentuk aktivitas keagamaan yang sering dilakukan di SDIT Bunayya Padangsidimpuan diantarnya adalah pelaksanaan sholat berjamaah,solat dhuha, takhfidz, metode shiroh/ bercerita, malam bina iman dan taqwa (mabit), dan memperingati hari-hari besar Islam.
a. Pelaksanaan Sholat berjamaah:
b. Metode Shiroh/ Bercerita
c. Peringatan hari-hari besar Islam
d. Peringatan maulid nabi Muhammad SAW
e. Peringatan Isra’ Mi’raz nabi Muhammad Saw
f. Tahfizh Qur’an: Tahfizh atau menghafal adalah proses mengulang sesuatu baik dengan membaca atau mendengar. Pekerjaan apapun jika sering diulang pasti menjadi hafal. menghafal Al-Quran baik anak-anak, remaja, bahkan orangtua asal mau menghafal dan mengulang hafalan.
Lokasi SDIT Bunayya Padangsidimpuan terletak di Jl. Ompu Toga Langit Kelurahan Losung Batu Padangsidimpuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Nopember 2016. Sekolah ini termasuk salah satu sekolah yang menerapkan sistem pembelajaran terpadu. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif yakni penelitian yang dilakukan dengan mendeskripsikan fenomena-fenomena secara menyeluruh/komprehensif (mendalam). Jenis Penelitian ini seperti yang dijelaskan oleh Sugioono (2007, 3) termasuk penelitian riset lapangan (field reseach) yaitu dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari sasaran peneitian yang selanjutnya disebut informan/ responden melalui instrumen pengumpulan data melalui angket, wawancara, observasi dan sebagainya. Adapun data penenlitian ini merupakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data pokok yang dibutuhkan dalam penelitian ini yang diperoleh dari guru SDIT Bunayya dan yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV dan V. Sementara data sekunder adalah data pendukung yang diperoleh dari kepala sekolah, orang tua dan dokumen-dokumen dalam proses pembelajaran. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Analisis data dilaksanakan secara kualitatif dengan menggambarkan langkah-langkah sebagai berikut yang dikemukakan oleh Lexi J.
a. Menelaah seluruh data yang tersedia dari sumber data.
b. Mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi.
c. Menyusun dalam satuan-satuan dan kemudian dikategorikan pada langkah berikutnya.
d. Mengadakan pemeriksaan keabsahan data.
e. Menafsirkan data menjadi teori subtantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.
Nilai-nilai Budaya yang Dibina di SDIT Bunayya Padangsidimpuan Berdasarkan data dari beberapa sumber di lapangan yang dapat penulis kemukakan secara umum, yakni nilai budaya dalam pembinaan aktivitas keagamaan siswa yang dilaksanakan di SDIT Bunayya Padangsidimpuan berjalan dengan baik, hal itu terbukti di antaranya program pembinaan aktivitas keagamaan dapat diwujudkan melalui religious culture di sekolah dapat berlangsung secara efektif dan efesien. Sebagaimana yang telah tertera dalam Bab I bahwa tujuan penelitian ini serta mengetahui nilai-nilai budaya yang telah dibina dan, untuk mengetahui pembinaan aktivitas keagamaan dan untuk mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam menanamkan nilai-nilai budaya sekolah dalam pembinaan aktivitas keagamaan siswa SDIT Bunayya Padangsidimpuan. Mengingat bahwa data-data yang terkumpul bersifat kualitatif, maka dalam menganalisis data penulis menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
Aspek budaya dapat dilihat dari diri siswa itu sendiri dan dari budaya guru. Dimana budaya ini merupakan elemen yang saling berkaitan yang dimulai dari driver, siswa dan guru sesama guru. Dalam Sekolah misalnya, salah satu budaya uswatun hasanah yakni menjadi contoh teladan. Jadi, guru itu memberikan tauladan baik dari tingkah laku, cara berpkaian maupun dalam hal berbicara.
Adapun budaya yang dilakukan di SDIT Bunayya salah satunya adalah budaya 5 S: Senyum, Salam, Sapa, sopan, Santun atas hasil wawancara terhadap ibuk wali kelas VI Khoirunnisa (12 Oktober 2016). Budaya ini selalu dilaksanakan baik di lingkungan sekolah maupun dilingkungan social. Sesuai dengan wawancara peneliti dengan ibu Khorunnisa Dalimunhte mengatakan bahwa sesampai siswa di sekolah, siswa tersebut wajib senyum, salam, sapa, sopan dan santun ini adalah salah satu budaya yang harus dilaksanakan oleh para siswa. Misalnya jika siswa berpapasan dengan guru yang bukan masuk ke kelasnya ia wajib menyalam guru tersebut. Sekolah menerapkan semaksimal mungkin agar agar mengikuti ajaran syariat Islam dan ini juga merupakan program yang terdapat dalam buku panduan JSIT.
SDIT Bunayya Padangsidimpuan dalam menanamkan budaya peduli lingkungan yakni dengan melaksanakan go green yaitu kegiatan menanam berbagai tanaman agar lingkungan sekolah kelihatan asri, nyaman dan menghijau. Hat tersebut dikemukakan oleh ibu Rahma, PKS Kesiswaan/ Guru kelas V-b, wawancara tanggal 7 Oktober 2016. Selain itu siswa-siswi disuruh memelihara tanaman dan dilarang merusaknya. Pada saat ananda saya yang duduk di kelas III SDIT Bunayya saya bawa ke kampus IAIN Padangsidimpuan di kantor itu ada kotak infak, lalu dia memasukkan uangnya ke kotak infak, katanya Nurul Azkia Dalimunthe (siswi SD IT Bunayya Padangsidimpuan), “Ini tabungan akhirat saya”. Berkurban adalah salah satu bentuk kepedulian seseorang terhadap orang lain. SDIT Bunayya pada bulan September 2016 tepatnya hari raya Idul Adha melaksanakan Qurban dengan tema “Tebarkan Manfaat Berbagi Kebahagian” dengan niat agar dapat berbagi dengan lingkungan sekitar. Qurban yang dilaksanakan di SDIT Bunayya terbentuk dengan adanya kerjasama antara orang tua dengan pihak sekolah melalui surat pemberitahuan keikut sertaan untuk berqurban di sekolah tersebut. Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa adanya kerjasama yang baik antara guru dan orang tua. Siswa langsung dapat menyaksikan bahwa orang tuanya juga ikut peduli terhadap fakir miskin. Metode shiroh mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja. Metode shiroh berdasarkan Armai Arief (2002, 160), merupakan salah satu metode yang mashur dan terbaik, sebab kisah ini mampu menyentuh jiwa jika didasarkan oleh ketulusan hati yang mendalam.
Komentar
Posting Komentar